Perundingan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat (AS) baru-baru ini mencapai titik terang yang menggembirakan. Presiden Prabowo Subianto menyatakan bahwa hasil negosiasi ini saling menguntungkan dan didasari sikap saling menghormati. Pertemuan krusial ini berlangsung di Washington DC pada 19-21 Februari 2026, di mana Prabowo bertemu dengan Presiden AS Donald Trump. Kesepakatan ini tidak hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga membuka peluang besar bagi perekonomian Indonesia, terutama sektor ekspor.
Latar Belakang Perundingan Dagang RI-AS
Perundingan dagang RI-AS telah berlangsung cukup lama, dengan fokus pada isu tarif timbal balik atau resiprokal. Menurut pernyataan resmi dari Kantor Staf Presiden, negosiasi ini melibatkan diskusi intensif untuk memastikan keseimbangan manfaat bagi kedua negara. Presiden Prabowo menekankan bahwa proses ini menghasilkan kesepahaman yang kuat, di mana sekitar 90% usulan Indonesia diterima oleh pihak AS.
Pertemuan di Washington DC dimulai pada 19 Februari 2026, dengan penandatanganan perjanjian perdagangan bersejarah oleh Prabowo dan Trump. Ini menjadi tonggak penting, mengingat hubungan dagang kedua negara sempat diwarnai ketegangan akibat perbedaan kebijakan tarif di masa lalu.
Hasil Kesepakatan yang Saling Menguntungkan
Dalam keterangan persnya pada 21 Februari 2026, Presiden Prabowo menyatakan, “Perundingan sudah cukup lama, artinya ketemu saling menguntungkan, saling menghormati.” Kesepakatan utama mencakup penetapan tarif resiprokal sebesar 19% untuk impor tertentu, sementara 1.819 produk Indonesia memperoleh tarif 0% di pasar AS. Produk unggulan seperti sawit, kopi, kakao, dan komponen elektronik menjadi prioritas, yang diharapkan meningkatkan volume ekspor secara signifikan.

Selain itu, ekspor tekstil Indonesia diproyeksikan naik hingga sepuluh kali lipat, dengan perlindungan harga pangan domestik untuk menjaga stabilitas ekonomi dalam negeri. Pihak AS juga berkomitmen untuk investasi strategis senilai USD 38,4 miliar, yang akan dialokasikan ke sektor-sektor prioritas seperti infrastruktur dan teknologi.
Prabowo juga bertemu dengan 12 pimpinan perusahaan investasi global selama kunjungannya, menunjukkan dukungan kuat dari sektor swasta AS terhadap Indonesia.
Dampak Positif bagi Ekonomi Indonesia
Kesepakatan ini menjadi sinyal baik bagi perekonomian Indonesia, khususnya ekspor. Dengan akses pasar AS yang lebih luas, Indonesia dapat meningkatkan surplus perdagangan dan menciptakan lapangan kerja baru. Sektor agrikultur seperti sawit dan kopi akan mendapat dorongan, sementara industri elektronik dan tekstil diharapkan berkembang pesat.
Secara keseluruhan, perundingan ini memperkuat posisi Indonesia di arena global, dengan potensi peningkatan PDB melalui investasi asing. Namun, pemerintah perlu memastikan implementasi yang transparan untuk menghindari dampak negatif seperti ketergantungan berlebih pada pasar AS.
Tantangan dan Prospek ke Depan
Meski ARENAMPO positif, tantangan seperti fluktuasi mata uang dan regulasi lingkungan tetap ada. Prospek ke depan terlihat cerah, dengan potensi perluasan kerjasama ke bidang lain seperti energi dan teknologi. Presiden Prabowo optimis bahwa hubungan RI-AS akan semakin erat, membawa manfaat jangka panjang bagi rakyat Indonesia.





