Motif di Balik Teror Bom 10 Sekolah di Depok: Sakit Hati Jadi Pemicu
Kasus ancaman bom yang sempat meresahkan warga dan dunia pendidikan di Kota Depok akhirnya menemui titik terang. Pihak kepolisian telah berhasil mengungkap sosok di balik teror tersebut beserta motif mengejutkan yang melatarbelakanginya. Bukan karena jaringan radikal, aksi nekat ini ternyata dipicu oleh persoalan asmara yang bersifat pribadi.
Kronologi Ancaman Bom di Sekolah Depok
Beberapa waktu lalu, sebanyak 10 sekolah di wilayah Depok secara beruntun menerima pesan ancaman peledakan. Ancaman yang dikirimkan melalui pesan singkat dan media sosial tersebut memaksa pihak sekolah melakukan evakuasi darurat dan melibatkan tim Gegana untuk penyisiran.
Setelah dilakukan pemeriksaan intensif, tidak ditemukan benda mencurigakan atau bahan peledak di lokasi. Kepolisian segera melacak jejak digital pengirim pesan hingga akhirnya pelaku berhasil diamankan.
Motif Pelaku: Kecewa Karena Lamaran Ditolak
Berdasarkan keterangan resmi dari pihak kepolisian, pelaku melakukan aksi teror ini didasari oleh rasa sakit hati yang mendalam. Pelaku mengaku merasa hancur dan kecewa setelah lamaran pernikahannya ditolak oleh pihak keluarga wanita yang dicintainya.

Kekecewaan yang tidak terbendung ini kemudian diluapkan secara destruktif. Pelaku memilih melakukan ancaman bom ke sekolah-sekolah—yang diduga memiliki keterkaitan dengan lingkungan sosial sang wanita—dengan tujuan untuk menarik perhatian dan menciptakan kekacauan sebagai bentuk pelampiasan emosi.
Penetapan Status Tersangka dan Ancaman Hukuman
Kepolisian kini telah menetapkan pelaku sebagai tersangka tunggal dalam kasus ini. Meskipun motifnya bersifat pribadi, tindakan menciptakan ketakutan di ranah publik adalah pelanggaran hukum yang serius.
- Pasal yang Disangkakan: Pelaku dijerat dengan UU ITE terkait penyebaran informasi palsu yang menimbulkan ketakutan serta pasal mengenai ancaman kekerasan.
- Kondisi Psikologis: Polisi juga berencana melakukan pemeriksaan kejiwaan terhadap tersangka untuk melihat sejauh mana stabilitas emosionalnya memengaruhi tindakan kriminal tersebut.
Dampak Psikologis bagi Siswa dan Guru
Meski ancaman tersebut terbukti hoaks, dampak psikologis terhadap siswa dan tenaga pengajar sangat signifikan. Trauma akibat proses evakuasi dan ketakutan akan keselamatan jiwa menjadi perhatian pemerintah kota. Saat ini, Dinas Pendidikan Depok bekerja sama dengan psikolog untuk memberikan pendampingan trauma healing bagi sekolah-sekolah terdampak.
Kesimpulan
Kasus ARENAMPO teror bom Depok ini menjadi pengingat pentingnya kesehatan mental dalam menghadapi kegagalan pribadi. Tindakan kriminal yang mengatasnamakan sakit hati tidak hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga mengancam ketertiban umum dan masa depan generasi muda di sekolah.






