Menlu Sugiono: Diplomasi Realisme di Tengah Gejolak Dunia 2026
Memasuki awal tahun 2026, wajah geopolitik dunia tidak menunjukkan tanda-tanda mereda. Sebaliknya, fragmentasi ekonomi dan ketegangan antar-blok justru semakin tajam. Menanggapi situasi ini, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, secara tegas memperkenalkan pendekatan “Diplomasi Realisme“.
Pendekatan ini bukan sekadar retorika politik, melainkan strategi bertahan sekaligus menyerang bagi Indonesia untuk memastikan kepentingan nasional tetap terjaga di tengah badai ketidakpastian global.
Apa Itu Diplomasi Realisme Versi Sugiono?
Dalam pidato arah kebijakan luar negeri terbarunya, Sugiono menjelaskan bahwa diplomasi realisme adalah pengakuan objektif terhadap keterbatasan tatanan internasional saat ini. Indonesia tidak lagi hanya berperan sebagai “penonton” atau sekadar “jembatan”, tetapi bertindak berdasarkan kalkulasi kekuatan dan kepentingan yang konkret.
- Pragmatisme Ekonomi: Memprioritaskan kerja sama yang memberikan dampak instan pada ketahanan pangan dan energi nasional.
- Netralitas Aktif: Tidak memihak blok manapun, namun tetap tegas dalam menjaga kedaulatan wilayah, terutama di zona ekonomi eksklusif.
- Adaptabilitas Tinggi: Kemampuan merespons perubahan kebijakan negara-negara besar yang sering kali mendadak dan proteksionis.
Menghadapi Fragmentasi Ekonomi yang Tajam

Fragmentasi ekonomi tahun 2026 ditandai dengan munculnya kebijakan “de-risking” yang ekstrem dari negara-negara maju. Hal ini menyebabkan rantai pasok global terpecah menjadi beberapa kubu.
Sugiono menekankan bahwa Indonesia harus mampu menavigasi celah ini dengan memperkuat kemitraan di kawasan Global South. Diplomasi realisme mendorong Indonesia untuk tidak bergantung pada satu sistem pembayaran atau satu jalur perdagangan saja. Diversifikasi menjadi kata kunci untuk menghindari dampak domino jika salah satu kekuatan ekonomi dunia mengalami kontraksi.
Langkah Strategis Indonesia di Awal 2026
Untuk mengimplementasikan visi ARENAMPO tersebut, Kementerian Luar Negeri telah menyusun beberapa langkah taktis:
- Penguatan Diplomasi Bilateral: Fokus pada negara-negara penyedia teknologi kunci dan investasi infrastruktur hijau.
- Kepemimpinan di ASEAN: Memastikan Asia Tenggara tetap menjadi zona pertumbuhan (Epicentrum of Growth) yang bebas dari pengaruh militer asing secara langsung.
- Reformasi Institusi Multilateral: Indonesia akan terus mendorong suara negara berkembang agar lebih didengar di forum seperti G20 dan PBB.






