China Sanksi 20 Perusahaan AS Imbas Penjualan Senjata Taiwan

Eskalasi Ketegangan: China Balas Penjualan Senjata AS ke Taiwan

Hubungan diplomatik antara dua kekuatan ekonomi terbesar dunia, China dan Amerika Serikat, kembali memanas di penghujung tahun 2025. Pemerintah China secara resmi mengumumkan langkah balasan yang tegas dengan menjatuhkan sanksi kepada 20 perusahaan pertahanan dan 10 eksekutif senior asal Amerika Serikat.

Langkah ini diambil Beijing menyusul keputusan pemerintahan Amerika Serikat yang menyetujui paket penjualan senjata besar-besaran ke Taiwan dengan nilai fantastis mencapai USD 11,1 miliar (sekitar Rp175 triliun).


Daftar Perusahaan dan Eksekutif yang Terkena Sanksi

Kementerian Luar Negeri China menegaskan bahwa sanksi ini merupakan respons langsung terhadap tindakan AS yang dianggap melanggar kedaulatan wilayahnya. Beberapa raksasa industri pertahanan yang masuk dalam daftar hitam di antaranya:

  • Northrop Grumman Systems Corporation
  • Boeing (Divisi St. Louis)
  • L3Harris Maritime Services
  • Anduril Industries (Termasuk pendirinya, Palmer Luckey)

Sanksi tersebut mencakup pembekuan aset milik perusahaan dan individu di wilayah China, larangan transaksi dengan entitas lokal, hingga larangan masuk (cekal) bagi para eksekutif tersebut ke wilayah China daratan, Hong Kong, dan Makau.


China Sanksi 20 Perusahaan AS Imbas Penjualan Senjata Taiwan

Alasan di Balik Sikap Tegas Beijing

Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China menyatakan bahwa masalah Taiwan adalah garis merah pertama yang tidak boleh dilanggar dalam hubungan bilateral kedua negara. Paket senjata yang dijual AS kali ini mencakup teknologi canggih seperti:

  1. Sistem Roket HIMARS (High Mobility Artillery Rocket Systems).
  2. Rudal Antitank Javelin.
  3. Sistem Howitzer Swagerak.

Menurut otoritas China, pengiriman senjata ini bukan hanya soal perdagangan, melainkan ancaman nyata terhadap stabilitas keamanan di Selat Taiwan dan intervensi terhadap urusan dalam negeri China.


Dampak Terhadap Hubungan Ekonomi Global

Meskipun sanksi ini seringkali bersifat simbolis karena sebagian besar perusahaan pertahanan AS tidak memiliki aset besar di China, dampaknya terhadap rantai pasok global tetap diwaspadai. Ketegangan ini memicu kekhawatiran pelaku pasar akan adanya perang tarif lanjutan atau pembatasan ekspor material kritis, seperti tanah jarang (rare earth), yang didominasi oleh China.

Para analis ARENAMPO memprediksi bahwa eskalasi ini akan memaksa negara-negara di kawasan Asia Tenggara untuk lebih waspada terhadap perubahan peta geopolitik dan ekonomi pada tahun 2026 mendatang.

Related Posts

PDIP Tolak Pilkada Lewat DPRD: Jaga Kedaulatan Rakyat!

Polemik Pilkada: PDI Perjuangan Tegas Tolak Pemilihan Lewat DPRD Diskursus mengenai sistem pemilihan kepala daerah kembali memanas di panggung politik nasional. Dalam Rakernas terbaru, PDI Perjuangan (PDIP) secara resmi menyatakan…

Prabowo Beri Peringatan Keras Petinggi BUMN: Kerja atau Mundur!

Tegas! Presiden Prabowo Minta Petinggi BUMN Maksimal atau Mundur Presiden Prabowo Subianto kembali menunjukkan gaya kepemimpinan yang disiplin dan tak kenal kompromi. Dalam arahan terbaru, beliau memberikan peringatan keras kepada…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *