Pendahuluan
Kawasan Puncak Bogor, yang terkenal dengan keindahan alamnya, kembali diterpa bencana alam. Pada Sabtu, 14 Februari 2026, hujan deras dengan intensitas tinggi memicu banjir bandang disertai longsor di wilayah tersebut. Kejadian ini terjadi sekitar pukul 15.45 WIB dan langsung menimbulkan kekacauan bagi warga setempat. Menurut laporan awal, setidaknya 12 keluarga terdampak, dengan BPBD Kabupaten Bogor masih melakukan pendataan dan evakuasi. Akses jalan sempat terganggu akibat material longsor yang menutup ruas jalan, meskipun kini mulai dibersihkan.

Penyebab Bencana
Penyebab utama bencana ini adalah hujan deras yang mengguyur kawasan Puncak Bogor selama beberapa jam. Curah hujan tinggi menyebabkan aliran drainase meluap, yang kemudian memicu longsor pada tembok penahan tanah (TPT) atau tanggul. Lokasi kejadian berada di Kampung Bina Taruna RT 001/005, Desa Tugu Selatan, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bogor. Faktor lain yang memperburuk adalah kondisi geografis daerah pegunungan yang rentan terhadap erosi tanah, ditambah dengan kemungkinan alih fungsi lahan yang mengurangi daya serap air. BMKG sebelumnya telah mengeluarkan peringatan cuaca ekstrem untuk wilayah Jawa Barat, yang seharusnya menjadi alarm bagi warga.
Dampak pada Masyarakat dan Infrastruktur
Bencana ini berdampak signifikan pada warga setempat. Sebanyak 12 kepala keluarga (KK) atau total 36 jiwa terdampak langsung. Empat KK (14 jiwa) terpaksa mengungsi ke rumah kerabat, termasuk keluarga Agung, Asep, Herman, dan Geri. Longsor menerjang tiga unit rumah, menyebabkan kerusakan parah pada rumah milik Agung (2 KK/8 jiwa), Asep (2 KK/6 jiwa), dan Adit (1 KK/4 jiwa). Selain itu, enam unit rumah lainnya terendam banjir, memengaruhi keluarga Rino, Mumun, Yayah Komariah, Riiyos, Budi, dan Nanang.
Infrastruktur juga terganggu, dengan akses jalan utama sempat tertutup material longsor dan banjir. Untungnya, tidak ada korban jiwa atau luka serius yang dilaporkan hingga saat ini. Kerugian material masih dalam proses inventarisasi oleh pihak berwenang.
Respons Pihak Berwenang
Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD Kabupaten Bogor langsung turun ke lokasi untuk melakukan assessment, pendataan korban, dan evakuasi. Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD, Adam Hamdani, menyatakan bahwa pemantauan lanjutan masih dilakukan untuk memastikan tidak ada risiko susulan. Bantuan sementara seperti logistik dan tempat pengungsian telah disiapkan bagi warga yang membutuhkan. Selain itu, petugas juga membersihkan material longsor untuk memulihkan akses jalan secepat mungkin. Pemerintah daerah mengimbau warga untuk tetap waspada terhadap potensi hujan susulan di kawasan pegunungan.
Pencegahan dan Langkah ke Depan
Untuk mencegah kejadian serupa, diperlukan upaya jangka panjang seperti penataan ruang yang lebih baik, termasuk pembangunan drainase yang memadai dan penghijauan ulang di kawasan rawan. Warga disarankan memantau peringatan cuaca dari BMKG dan menghindari membangun di lereng curam. Pemerintah juga bisa meningkatkan edukasi masyarakat tentang mitigasi bencana, seperti pembuatan tanggul alami dan sistem peringatan dini. Kejadian ini menjadi pengingat bahwa perubahan iklim semakin memperburuk frekuensi bencana alam di Indonesia.
Kesimpulan
Banjir bandang ARENAMPO dan longsor di Puncak Bogor pada Februari 2026 menunjukkan kerentanan wilayah pegunungan terhadap cuaca ekstrem. Meski tidak ada korban jiwa, dampaknya terhadap kehidupan warga cukup besar. Dengan respons cepat dari BPBD dan kesadaran masyarakat, diharapkan pemulihan bisa berjalan lancar. Tetap waspada dan ikuti update resmi untuk informasi terkini.





