Pendahuluan
Iran baru saja mengumumkan rencana latihan militer besar-besaran di Selat Hormuz, yang dijadwalkan berlangsung selama dua hari mulai Minggu, 1 Februari 2026. Latihan tembak langsung ini melibatkan Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) dan berpotensi mendekati posisi kapal perang Amerika Serikat (AS). Respons AS datang cepat melalui US Central Command (CENTCOM), yang memperingatkan IRGC untuk tidak melakukan aksi “tidak aman” yang bisa memicu eskalasi. Ketegangan AS-Iran yang sudah tinggi sejak awal 2026 kini semakin memanas, memengaruhi lalu lintas minyak global dan stabilitas Timur Tengah.
Latar Belakang Ketegangan AS-Iran
Ketegangan antara AS dan Iran bukan hal baru, tapi memuncak lagi di awal 2026 akibat protes domestik di Iran, sanksi ekonomi AS, dan isu nuklir. Selat Hormuz, yang menjadi jalur 20% pasokan minyak dunia, sering jadi titik panas. Iran mengklaim latihan militer ini sebagai hak berdaulat untuk menjaga keamanan wilayahnya, sementara AS melihatnya sebagai provokasi. Pada 30 Januari 2026, CENTCOM secara resmi menyatakan tidak akan mentolerir perilaku tidak profesional dekat pasukan AS atau lalu lintas maritim internasional. Latihan ini juga melibatkan elemen bersama dengan China dan Rusia, menambah dimensi geopolitik.
Detail Latihan Militer Iran di Selat Hormuz
Latihan tembak langsung IRGC dijadwalkan 1-2 Februari 2026 di bagian timur Selat Hormuz. Iran telah mengeluarkan peringatan NAVAREA untuk menutup rute masuk inbound selama latihan, sementara rute keluar tetap terbuka tapi diawasi ketat. Aktivitas ini mencakup simulasi tempur laut, termasuk penembakan langsung yang berisiko bagi kapal dagang. Radius latihan sekitar 5 mil laut, dan Iran menekankan ini untuk meningkatkan kesiapan militer mereka. Namun, kedekatan dengan kapal perang AS seperti USS Abraham Lincoln meningkatkan risiko konfrontasi.

Respons AS dan Peringatan CENTCOM
AS tidak tinggal diam. Pada 30 Januari 2026, CENTCOM mendesak IRGC untuk melaksanakan latihan militer Iran Selat Hormuz secara aman dan profesional, menghindari risiko tabrakan atau eskalasi. Mereka menyoroti bahwa sekitar 100 kapal dagang melintasi selat setiap hari, dan aksi seperti penerbangan rendah atau pendekatan cepat ke kapal AS bisa dianggap ancaman. Presiden Donald Trump juga menyatakan kekhawatiran atas pendekatan sekutu AS ke China, yang memperburuk situasi. Ini sejalan dengan peningkatan kehadiran militer AS di Timur Tengah.
Dampak Global dan Risiko Eskalasi
Latihan ini berpotensi mengganggu pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz adalah arteri vital energi dunia. Harga minyak bisa naik jika ketegangan memicu blokade atau insiden. Secara geopolitik, ini memperburuk hubungan AS-Iran, dengan Iran mengancam respons penuh jika diserang. Pakar memprediksi risiko miscalculations tinggi, tapi dialog mungkin masih terbuka untuk meredakan tensi.
Kesimpulan
Latihan militer ARENAMPO Iran di Selat Hormuz menandai babak baru ketegangan AS-Iran di 2026. Sementara Iran menegaskan haknya, AS menekankan keamanan navigasi. Pantau perkembangan ini untuk memahami implikasi jangka panjang bagi stabilitas regional.





