Pendahuluan: Deklarasi Trump yang Mengguncang Dunia
Pada akhir Januari 2026, Presiden AS Donald Trump membuat gebrakan besar di arena internasional. Ia secara resmi mendeklarasikan keadaan darurat nasional terkait dugaan ancaman dari pemerintah Kuba. Langkah ini tidak hanya menargetkan Kuba, tapi juga memperluas ancaman sanksi ekonomi ke negara-negara lain, termasuk yang berbisnis dengan Iran melalui tarif 25%. Keputusan ini mencerminkan pendekatan keras Trump terhadap musuh-musuh AS, dengan tujuan melindungi keamanan nasional dan kebijakan luar negeri.
Deklarasi ini datang melalui Executive Order yang ditandatangani pada 29 Januari 2026, efektif mulai 30 Januari. Trump menuduh Kuba mendukung aktor jahat seperti Rusia, Iran, dan kelompok teroris seperti Hamas serta Hezbollah, meski tanpa bukti spesifik yang dirinci. Sementara itu, ancaman tarif ke Iran menargetkan mitra dagangnya, seperti China dan India, sebagai respons terhadap protes anti-pemerintah di Iran yang memanas.
Latar Belakang: Mengapa Kuba Jadi Target Utama?
Kuba telah lama menjadi duri dalam daging bagi AS, terutama sejak era Revolusi Kuba. Di bawah Trump, hubungan semakin memburuk. Executive Order menyatakan bahwa “kebijakan, praktik, dan aksi pemerintah Kuba merupakan ancaman luar biasa” bagi AS. Trump secara khusus menyoroti pasokan minyak ke Kuba, dengan mengancam tarif pada negara yang menyediakannya, seperti Meksiko yang baru-baru ini mengirim bahan bakar ke pulau tersebut.
Langkah ini bertujuan memutus rantai pasok minyak ke Kuba, yang sudah kesulitan ekonomi akibat embargo lama AS. Menurut Fact Sheet Gedung Putih, ini adalah upaya untuk menghadapi “pengaruh jahat Kuba” yang mendukung ketidakstabilan regional. Para kritikus, seperti Cuba Solidarity Campaign, menyebutnya sebagai eskalasi perang ekonomi yang kejam, yang bisa mengganggu layanan esensial di Kuba dan menimbulkan korban jiwa.
Ancaman Tarif 25% ke Negara Berbisnis dengan Iran
Tidak berhenti di Kuba, Trump juga mengancam tarif 25% pada “setiap negara yang berbisnis dengan Republik Islam Iran”. Pengumuman ini dibuat melalui posting di Truth Social pada 12 Januari 2026, sebagai respons terhadap protes massal di Iran yang menewaskan ratusan orang.

Tarif ini berlaku “segera” dan final, meski belum ada perintah eksekutif resmi yang diterbitkan. Negara seperti China, India, UAE, Turki, dan Brasil berpotensi terdampak, karena mereka adalah mitra dagang utama Iran. Trump menyatakan ini untuk menekan Iran, yang sudah dihantam sanksi AS, dengan harapan memperburuk krisis ekonomi seperti inflasi 70% dan kekurangan makanan. Namun, para ahli memperingatkan bahwa tarif ini bisa balik menyerang konsumen AS melalui kenaikan harga.
Dampak Ekonomi dan Geopolitik
Deklarasi darurat ke Kuba bisa melumpuhkan ekonomi pulau itu, dengan pemutusan pasok minyak yang mengancam layanan listrik dan transportasi. Trump sendiri yakin “Kuba tidak akan bertahan”, tapi ini juga berisiko bagi hubungan AS dengan sekutu seperti Meksiko.
Untuk Iran, tarif 25% bisa memukul perdagangan global, termasuk dengan China yang sudah dikenai tarif Trump sebelumnya. Ini menambah ketegangan, dengan Trump mempertimbangkan opsi militer atau rahasia terhadap Iran. Secara keseluruhan, kebijakan ini memperkuat posisi hawkish Trump, tapi berpotensi memicu perang dagang baru di 2026.
Reaksi Internasional dan Kritik
Kuba mengecam deklarasi ini sebagai “kebohongan dan kemunafikan”, sementara AS dituduh ingin menggulingkan pemerintahan Kuba. Iran juga membalas, dengan Pemimpin Tertinggi Khamenei menolak ancaman Trump. Kelompok hak asasi manusia khawatir sanksi ini memperburuk penderitaan rakyat biasa.
Di AS, senator seperti Marco Rubio mendukung, tapi kritikus melihatnya sebagai eskalasi berbahaya.
Kesimpulan: Masa Depan Kebijakan Trump
Deklarasi darurat ARENAMPO ke Kuba dan ancaman tarif ke Iran menandai era baru kebijakan luar negeri Trump di 2026. Meski bertujuan melindungi AS, langkah ini bisa memicu ketidakstabilan global. Pantau perkembangan terbaru untuk melihat dampak jangka panjangnya.





