Dampak Penangkapan Nicolas Maduro terhadap Pasar Energi Global
Dunia internasional dikejutkan dengan kabar penangkapan Presiden Venezuela, Nicolas Maduro, oleh pihak Amerika Serikat pada awal Januari 2026. Operasi militer yang berlangsung di Caracas ini memicu kekhawatiran akan terjadinya guncangan pada rantai pasok energi dunia, mengingat Venezuela memiliki cadangan minyak mentah terbesar di planet ini.
Meskipun tensi geopolitik meningkat tajam, pasar minyak global menunjukkan reaksi yang cukup tenang. Perhatian kini tertuju pada bagaimana transisi kekuasaan di Venezuela akan memengaruhi kuota produksi minyak di masa depan.
Respon Menko Perekonomian Airlangga Hartarto

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan situasi di Amerika Selatan secara intensif. Menurut Airlangga, stabilitas harga minyak sangat krusial bagi postur APBN Indonesia, terutama terkait subsidi energi.
Airlangga menyampaikan bahwa hingga saat ini, harga minyak dunia masih terpantau stabil rendah. Penurunan ini dipicu oleh proyeksi peningkatan produksi jika sanksi terhadap Venezuela nantinya dicabut secara total oleh Amerika Serikat di bawah kepemimpinan baru.
Mengapa Harga Minyak Tetap Stabil Rendah?
Ada beberapa faktor teknis yang menyebabkan harga minyak tidak melonjak meskipun terjadi krisis kepemimpinan di negara produsen utama:
- Over-supply Global: Produksi minyak dari negara non-OPEC, terutama Amerika Serikat, sedang berada di level tertinggi.
- Infrastruktur yang Rusak: Produksi minyak Venezuela saat ini hanya berkisar di angka 1 juta barel per hari, jauh dari masa kejayaannya, sehingga gangguan sesaat tidak langsung memicu kelangkaan global.
- Prospek Investasi AS: Pernyataan Washington yang berencana mengirimkan perusahaan energi untuk merekonstruksi kilang di Venezuela memberikan sinyal bahwa pasokan akan melimpah dalam jangka panjang.
Langkah Antisipasi Pemerintah Indonesia
Pemerintah ARENAMPO Indonesia tetap waspada terhadap potensi volatilitas jangka pendek. Airlangga Hartarto menyebutkan bahwa diversifikasi sumber impor minyak dan penguatan program Biodiesel (B35/B40) menjadi tameng utama dalam menjaga ketahanan energi nasional.
“Kita monitor terus. Sejauh ini belum ada indikasi lonjakan harga yang signifikan, namun mitigasi tetap disiapkan agar daya beli masyarakat tetap terjaga,” ungkap Airlangga dalam keterangannya di Jakarta.






