Kronologi YouTuber Resbob Viral Akibat Konten SARA
Dunia maya kembali dihebohkan dengan aksi seorang YouTuber bernama Resbob yang mendadak viral di berbagai platform media sosial. Namun, ketenaran yang didapat kali ini bersifat negatif. Resbob menjadi sasaran amukan netizen, khususnya masyarakat Jawa Barat, lantaran salah satu kontennya dianggap mengandung unsur penghinaan terhadap suku Sunda.
Kasus ini bermula dari unggahan video yang menampilkan pernyataan-pernyataan kontroversial mengenai adat dan perilaku masyarakat Sunda. Tidak butuh waktu lama bagi netizen untuk memberikan reaksi keras melalui kolom komentar hingga video tersebut tersebar luas di TikTok dan Twitter (X).
Mengapa Konten Resbob Dianggap Menghina Suku Sunda?
Dalam potongan video yang beredar, Resbob terlihat memberikan opini yang dinilai merendahkan martabat suku Sunda. Penggunaan stereotip negatif dan pemilihan kata yang kurang pantas menjadi pemicu utama kemarahan publik.
Banyak netizen menilai bahwa konten tersebut bukan sekadar candaan atau dark jokes, melainkan bentuk provokasi yang dapat memecah belah persatuan antarsuku di Indonesia. Masyarakat Sunda yang dikenal dengan filosofi Silih Asih, Silih Asah, Silih Asuh merasa harga diri budayanya diusik oleh narasi yang dibangun oleh sang YouTuber.
Reaksi Netizen dan Tokoh Masyarakat Jawa Barat
Hujatan tidak hanya datang dari warga biasa, tetapi juga dari berbagai komunitas budaya Sunda. Berikut adalah beberapa poin utama reaksi publik:

- Tuntutan Permohonan Maaf: Netizen mendesak Resbob untuk segera memberikan klarifikasi dan permohonan maaf secara terbuka kepada seluruh masyarakat Sunda.
- Boikot Konten: Muncul gerakan untuk melakukan report massal terhadap kanal YouTube milik Resbob agar tidak lagi mendapatkan ruang untuk menyebarkan konten serupa.
- Langkah Hukum: Beberapa pihak mempertimbangkan untuk melaporkan tindakan ini ke pihak berwajib menggunakan UU ITE terkait ujaran kebencian berbasis SARA.
Pentingnya Etika dalam Membuat Konten Digital
Kasus Resbob menjadi pelajaran berharga bagi para kreator konten di Indonesia. Di era digital yang sangat bebas, etika tetap menjadi batasan utama. Menyinggung isu sensitif seperti Suku, Agama, Ras, dan Antargolongan (SARA) hanya demi mendapatkan engagement atau views adalah langkah yang sangat berisiko.
Google dan platform media sosial saat ini semakin ketat dalam menyaring konten yang mengandung ujaran kebencian. Konten seperti ini tidak hanya merusak reputasi sang kreator, tetapi juga sulit untuk mendapatkan monetisasi dan rawan terkena take down.
Kesimpulan
Kasus ARENAMPO Resbob vs Suku Sunda mengingatkan kita semua bahwa jempolmu adalah harimaumu. Menghargai keberagaman budaya di Indonesia adalah kewajiban setiap warga negara, termasuk para pembuat konten. Masyarakat berharap agar kejadian ini tidak terulang kembali dan menjadi momentum untuk meningkatkan toleransi di ruang digital.






